Filosofi Tahu Beton
Tahu Beton
Salam tahu beton buat teman semua.
Untuk teman-teman yang bekerja di bidang konstruksi pasti sudah mengerti tentang istilah "tahu beton" ini. Kebetulan juga saya bekerja di bidang konstruksi. Selama pengalaman kerja selama 5 tahun dibidang konstruksi, banyak sekali istilah yang digunakan di lapangan tapi tidak dimengerti oleh masyarakat umum, bahkan oleh seseorang yang sudah mengecap pendidikan bidang konstruksi sekalipun. Istilah yang biasa digunakan di lingkungan konstruksi seperti aspal goreng, cakar ayam, mulut ikan, adu manis, kepala kolom, sepatu kolom dan tahu beton. Kali ini saya akan menggunakan istilah "tahu beton" dalam pembahasannya. Tapi maaf teman-teman, kali ini saya bukan membahas tentang teknis maupun detail dunia konstruksi, melainkan tentang sudut pandang ataupun filosofi pribadi saja. Jadi jangan dianggap terlalu serius ya.
Ketika mendengar kata "tahu beton" biasanya orang membayangkan dua hal yang berbeda yakni tahu dan beton. Bila membayangkan tahu, maka yang terlintas adalah benda yang lunak, gampang hancur dan enak disantap bila digoreng dan diberi sambel kecap sambil ditemani teh manis hangat di sore hari menikmati matahari terbenam. Cemilan semua lapisan masyarakat ya.
Dalam bidang konstruksi, tahu beton adalah campuran adukan semen pasir yang digunakan sebagai acuan tebal (selimut beton) beton yang dipasang di besi tulangan sebelum dicor.
Dalam penggunaannya, tahu beton ini berfungsi layaknya pengganjal yang presisi agar cetakan beton tidak menempel pada besi tulangan dan memenuhi syarat-syarat konstruksi. Sehingga tahu beton ini sebenarnya cukup keras dan tidak gampang pecah. Jadi mengapa disebut tahu beton? Sebenarnya ini hanya karena bentuk dan proses pembuatannya yang menyerupai tahu, tapi tidak melewati proses fermentasi lho ya.
Sebagai salam pembuka tadi saya menuliskan "salam tahu beton" yang sebenarnya akan menjadi salam saya untuk tulisan-tulisan berikutnya. Jadi apa esensi dari tahu beton ini?
Bila dirunut kembali, tahu adalah benda yang dianggap sepele, ringan, gampang rusak dan lembek, tapi enak dimakan bila sudah diolah. Dan beton adalah benda keras yang bisa menjadi tumpuan ataupun bahkan pondasi gedung bertingkat. Dari hal yang berseberangan ini saya melihat bahwa kata tahu yg dicitrakan sebagai hal yang lembek atau lemah digabung bersamaan dengan kata beton yang mewakili citra kuat atau kokoh. Dalam filosofinya saya menganggap bahwa hidup juga dapat mengambil sisi tahu beton ini. Dimana benda ini terkesan lemah namun kenyataannya keras atau kuat.
Dalam kehidupan sehari-hari banyak sekali orang yang menunjukkan sikap tidak mau mengalah, acuh tak acuh, egois dan otoriter. Tetapi sebagian besar dari mereka juga hanya memberi pencitraan untuk mengamankan posisi mereka di lingkungan sosialnya. Dengan kata lain orang seperti ini akan selalu menekan orang lain demi kesenangan dan kebutuhannya saja. Di sisi lain, orang-orang yang tidak kuat selalu menerima tekanan itu sebagai sebuah keharusan seolah-olah mereka tidak punya kesempatan untuk merubah kondisi itu. Tetapi seharusnya kita bisa menanamkan dalam hati filosofi "tahu beton" ini. Kita mungkin tampak atau terkesan lemah dan tak berdaya, namun dibalik itu semua kita memiliki kemampuan yang kokoh dan semangat juang yang nyata dan dapat kita buktikan. Karena pencitraan hanyalah kosong bila tanpa hasil yang nyata. Serta bila memang tetap menjadi tahu, jadilah tahu goreng yang enak untuk disantap. Bukan menjadi tahu mentah yang siap hancur kapan saja. Jadilah TAHU BETON yang terkesan lunak namun keras dan berguna. Jadilah sosok yang low profile namun memberikan kontribusi bagi diri sendiri maupun sekitar.
Teman-teman, pencitraan dan image memang dibutuhkan. Tapi tetap harus dibuktikan dengan hasil kerja ya. Setiap hari adalah pembelajaran tentang kedewasaan diri. Jadi mari belajar menjadi sosok yang kuat meski dianggap lemah, mulai dari sekarang.
Salam TAHU BETON..




Komentar
Posting Komentar