Ikan Pleco dan Adaptasi Super

Salam Tahu Beton

   Bagi sebagian orang, hobi dapat menjadi awal sebuah pekerjaan dan sumber penghasilan. Bagi sebagian orang lainnya, hobi dilakukan hanya untuk mendapatkan kepuasan batin. Saya sendiri mungkin termasuk dalam pencari kepuasan batin. Sudah beberapa tahun ini saya mencoba memelihara ikan hias di akuarium. Sebenarnya awal yang tidak terduga untuk memulai kembali hobi ini, sebab terakhir kali memelihara ikan hias ketika masih SD. Saat itu ikan cupang masih menjadi primadona di kalangan anak-anak ingusan. Seperti tidak mau ketinggalan, saya juga memulai memelihara ikan cupang di botol-botol bening sebagai hobi. Hobi itu hanya untuk menikmati keindahan sirip dan ekor cupang yang berwarna-warni. Sungguh menyenangkan rasanya melihat ikan-ikan itu dulu. Tidak tahu kapan berakhirnya, hobi itu tiba-tiba tidak berlanjut. Mungkin karena sudah tersaingi oleh permainan PS yang sangat banyak menyita waktu pada waktu itu. Bahkan terkadang sampai lupa waktu.

   Setelah hampir 20 tahun, tidak sengaja, kembali bertemu dengan "galeri" ikan cupang dipinggir jalan. Tidak tahu kenapa, seperti terkena magnet, saya langsung saja jongkok sambil melihat-lihat ikan cupang itu. Dan hobi pun dimulai dengan memelihara dua ikan cupang. Lama kelamaan sepertinya ingin lebih dari sekedar ikan cupang. Akhirnya akuarium dari yang kecil sampai yang besar dibeli. Hingga kamar kos yang sempit menjadi lebih sempit lagi. Berbagai jenis ikan mulai dipelihara. Tetapi sejauh ini, tidak ada yang bertahan lama. Ikan-ikan banyak yang mati. Sepertinya saya belum mahir menjalankan hobi ini. Tapi sungguh heran, ada seekor ikan yang mampu bertahan sampai sekarang, ikan Pleco.

   Sepintas ikan Pleco sama dengan ikan Sapu-sapu. Mungkin sepupu kali ya. Bedanya, ikan Sapu-sapu suka menempel di dinding akuarium atau bahkan di badan ikan lain. Sedangkan ikan Pleco tidak seperti itu, malah lebih mirip Lele. Ini penampakannya teman-teman.


   Riwayat Pleco yang bertahan di akuarium saya sebenarnya sungguh menginspirasi. Seperti menunjukkan kemampuan adaptasi super yang bisa diaplikasikan dalam kehidupan manusia. Sayangnya si Pleco tidak punya media sosial untuk menuliskan kisah sedih perjuangannya selama ini sebelum akhirnya masuk dalam akuarium besar saya.
   Awalnya ikan Pleco ini saya beli dua ekor, seukuran 5 - 7cm. Ditempatkan di akuarium bulat ukuran diameter 20-25cm, digabung dengan seekor ikan cupang dan dua ekor ikan black golden. Ternyata ini adalah keputusan yang salah. Ikan-ikan saling berebut makanan dan bertengkar. Karena masih menganggap ikan cupang sebagai primadona, akhirnya ikan-ikan Pleco dipindahkan ke tempat lain. Untuk waktu yang lama ikan-ikan Pleco ini tidak diberi makan, air tidak diganti sampai keruh dan ditempatkan di tempat yang kurang cahaya. Hingga waktunya salah satu ikan Pleco itu akhirnya mati. Wajar memang, mengingat kondisi yang dialaminya selama ini. Bahkan ikan-ikan lain termasuk cupang yang saya jago-jagokan dan lebih dirawat malah ikut mati. Untuk sementara waktu akhirnya Pleco yang tersisa menjadi pengisi akuarium sementara. Masih dengan perawatan yang kurang, ikan Pleco yang satu ini tetap bertahan. Hingga akhirnya ikan-ikan lain mulai dipelihara dan akuarium semakin besar, hanya ikan Pleco ini lah yang masih tetap bertahan paling lama. Sepertinya sudah berjodoh dengan si Pleco super ini.




   Saat ini si Pleco sudah seukuran 15 - 16 cm dan semakin cepat besar. Apalagi sekarang dia sudah diperlakukan sama dengan ikan-ikan yang lain. Tanpa dia ketahui, sekarang dia menjadi salah satu primadona di akuariumku. Meskipun rakus dalam urusan makan, dia tidak keberatan digabung dengan Gurami padang, Black ghost, Ikan mas, Silver dolar dan Koi.
   Dari pengalaman si Pleco ini, saya mendapatkan sebuah inspirasi bahwa kemauan bertahan hidup dan adaptasi dapat mengatasi semua tantangan. Entah bentuk adaptasi apa yang dilakukan oleh si Pleco, tapi dia sudah terbukti mampu bertahan hidup sejauh ini. Bila kita juga mampu beradaptasi dengan segala kondisi, masalah dan tekanan dalam hidup, sepertinya kita juga dapat melewati hari-hari di depan kita tanpa takut akan gagal.
   Memang tidak mudah teman-teman untuk beradaptasi dalam segala hal. Tetapi selama kita mau mencoba maka tidak ada yang tak mungkin. Sebagai manusia dengan kemampuan di atas makhluk lainnya, seharusnya kita tidak boleh kalah dari si Pleco ini. Bila si Pleco mampu untuk beradaptasi super, maka kita bisa mencoba adaptasi hyper. Ada-ada saja ya. Jangan terlalu dianggap serius ya teman-teman.
   Selamat mencoba adaptasi di kehidupan nyata teman-teman. Salam Tahu Beton.
  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Filosofi Tahu Beton