Tusuk Sate dan Buruh
Salam Tahu Beton,
Tanggal satu Mei diperingati sebagai hari Buruh Sedunia. Hari dimana para buruh dan pekerja diberi kesempatan untuk tidak produktif dari tempatnya bekerja diluar hari libur nasional dan hari Minggu. Sebagian buruh dan pekerja memilih untuk menyampaikan aspirasinya dengan ikut demo, demi mendapatkan perhatian untuk kesejahteraan yang lebih baik di hari-hari kedepannya. Ada juga yang memilih untuk beristirahat di rumah maupun rekreasi bersama dengan keluarga. Selain itu ada juga yang, ehmm, masuk kerja. Sungguh warna-warni aktifitas para buruh dan pekerja di hari Buruh Sedunia ini.
Kalau anda termasuk dalam pekerja yang menghabiskan hari Buruh sedunia ini dengan rekreasi bersama keluarga, maka tidak ada salahnya menyantap sate sembari menunggu matahari terbenam. Saran saya untuk mencoba sate kambing, bagi yang tidak menderita tekanan darah tinggi.
Bila diperhatikan, apakah yang menurut teman-teman membuat sate menjadi sate? Pertanyaan yang membingungkan ya. Bila diwarung makan memesan sate tapi yang datang adalah daging bakar, apakah teman-teman komplain atau tidak? Padahal daging dan bumbu yang digunakan sama saja, bahkan rasanya juga sama. Sepertinya sebagian orang akan komplain dan meminta sate yang ada tusuknya. Karena di bagian itulah masakan ini disebut sebagai sate, baik sate kambing atau sate ayam. Daging yang ditusuk dengan buluh kemudian dibakar, adalah sate. Jadi apa sih yang membuat sate ini sungguh spesial? Mengapa harus dengan tusuk? Sepertinya hanya tukang sate profesional yang bisa menjawab, atau mungkin si penciptanya dulu.
Hubungan antara daging dan tusuk buluh ini sepertinya memiliki sebuah filosofi yang berkaitan dengan buruh dan pekerja. Pada dasarnya sebuah perusahaan dijalankan oleh pemilik perusahaan dan jajaran pekerjanya. Adapun tujuannya adalah untuk memperoleh keuntungan bagi si pemilik, serta menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat. Hubungan timbal balik ini mirip dengan Tusuk Sate. Mengapa?
Perusahaan digambarkan sebagai tukang sate, daging adalah bahan bakunya serta buruh dan pekerja sebagai tusuk satenya. Konsumen berperan sebagai lingkungan masyarakatnya. Bila si tukang sate membuka warung satenya namun menghidangkan daging bakar tanpa tusuk satenya, karena sudah dibakar di pemanggang elektrik, maka kemungkinan besar ekspektasi dan kepuasan konsumen tidak akan terpenuhi. Sebab konsumen datang untuk membeli sate yang dihidangkan sebagaimana mestinya berikut dengan tusuknya. Bila ternyata tidak sesuai, maka kekecewaan akan timbul, bahkan si tukang sate bisa saja disuruh menutup warungnya karena tidak sesuai harapan. Hal ini sebanding dengan hubungan perusahaan dan pekerjanya. Ekspektasi masyarakat akan kehadiran sebuah perusahaan adalah mendapatkan lapangan pekerjaan, sehingga mereka mendapatkan kesempatan untuk memperoleh kesejahteraan. Namun apabila pemilik perusahaan lebih memilih mesin daripada buruh dan pekerja, maka terkadang perusahaan tersebut tidak akan memiliki ruang hati masyarakat sekitarnya. Hal inilah yang sering memicu keributan disekitar komplek perusahaan atau pabrik. Memang hal ini terkait dengan kebijakan dan efisiensi dari manajemen perusahaan. Namun dimanakah esensi dari sebuah perusahaan yang tidak menggunakan buruh dan pekerja? Sama halnya dengan filosofi Tusuk Sate. Sate bukanlah sate bila tidak dengan tusuknya. Maka perusahaan tanpa buruh dan pekerja adalah hampa dan tidak berarti.
Teman-teman buruh dan pekerja, tetaplah bersemangat dalam bekerja. Karena dirimu juga adalah bagian dari roda perekonomian. Hargailah dirimu dan kemampuanmu. Selamat Hari Buruh Sedunia.
Salam Tahu Beton.
Bila diperhatikan, apakah yang menurut teman-teman membuat sate menjadi sate? Pertanyaan yang membingungkan ya. Bila diwarung makan memesan sate tapi yang datang adalah daging bakar, apakah teman-teman komplain atau tidak? Padahal daging dan bumbu yang digunakan sama saja, bahkan rasanya juga sama. Sepertinya sebagian orang akan komplain dan meminta sate yang ada tusuknya. Karena di bagian itulah masakan ini disebut sebagai sate, baik sate kambing atau sate ayam. Daging yang ditusuk dengan buluh kemudian dibakar, adalah sate. Jadi apa sih yang membuat sate ini sungguh spesial? Mengapa harus dengan tusuk? Sepertinya hanya tukang sate profesional yang bisa menjawab, atau mungkin si penciptanya dulu.
Hubungan antara daging dan tusuk buluh ini sepertinya memiliki sebuah filosofi yang berkaitan dengan buruh dan pekerja. Pada dasarnya sebuah perusahaan dijalankan oleh pemilik perusahaan dan jajaran pekerjanya. Adapun tujuannya adalah untuk memperoleh keuntungan bagi si pemilik, serta menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat. Hubungan timbal balik ini mirip dengan Tusuk Sate. Mengapa?
Perusahaan digambarkan sebagai tukang sate, daging adalah bahan bakunya serta buruh dan pekerja sebagai tusuk satenya. Konsumen berperan sebagai lingkungan masyarakatnya. Bila si tukang sate membuka warung satenya namun menghidangkan daging bakar tanpa tusuk satenya, karena sudah dibakar di pemanggang elektrik, maka kemungkinan besar ekspektasi dan kepuasan konsumen tidak akan terpenuhi. Sebab konsumen datang untuk membeli sate yang dihidangkan sebagaimana mestinya berikut dengan tusuknya. Bila ternyata tidak sesuai, maka kekecewaan akan timbul, bahkan si tukang sate bisa saja disuruh menutup warungnya karena tidak sesuai harapan. Hal ini sebanding dengan hubungan perusahaan dan pekerjanya. Ekspektasi masyarakat akan kehadiran sebuah perusahaan adalah mendapatkan lapangan pekerjaan, sehingga mereka mendapatkan kesempatan untuk memperoleh kesejahteraan. Namun apabila pemilik perusahaan lebih memilih mesin daripada buruh dan pekerja, maka terkadang perusahaan tersebut tidak akan memiliki ruang hati masyarakat sekitarnya. Hal inilah yang sering memicu keributan disekitar komplek perusahaan atau pabrik. Memang hal ini terkait dengan kebijakan dan efisiensi dari manajemen perusahaan. Namun dimanakah esensi dari sebuah perusahaan yang tidak menggunakan buruh dan pekerja? Sama halnya dengan filosofi Tusuk Sate. Sate bukanlah sate bila tidak dengan tusuknya. Maka perusahaan tanpa buruh dan pekerja adalah hampa dan tidak berarti.
Teman-teman buruh dan pekerja, tetaplah bersemangat dalam bekerja. Karena dirimu juga adalah bagian dari roda perekonomian. Hargailah dirimu dan kemampuanmu. Selamat Hari Buruh Sedunia.
Salam Tahu Beton.






Komentar
Posting Komentar